Sekaten Yogyakarta, Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan Seni Gamelan

Suasana Sekaten Yogyakarta

Sekaten Yogyakarta merupakan salah satu kearifan lokal yang dilandasi dari sebuah kearifan dari budaya yang telah lama berkembang. Salah satu bentuk kearifan lokal ini berupa nilai serta adat-istiadat yang masih dilestarikan hingga saat ini.

Kearifan lokal sendiri merupakan budaya atau tradisi dalam masyarakat tertentu yang masih dipegang teguh walau harus bertahan di era globalisasi saat ini. Dan di kota Jogja sendiri ada sebuah tradisi unik Sekaten Yogyakarta, peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan seni gamelan.

Apa yang Dimaksud dengan Sekaten?

Sekaten Yogyakarta adalah upacara tradisional sebagai salah satu warisan budaya suku Jawa untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW selama tujuh hari lamanya. Selain di Jogja, sekaten juga rutin digelar di kota Solo.

Upacara tradisional yang berkembang sejak abad ke-15 ini diselenggarakan secara rutin sekali dalam setahun, yaitu setiap tanggal 5 sampai 11 Rabi’ul Awal (atau dalam kalender Jawa disebut bulan Mulud).

Tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang ini pada awalnya berupa selamatan atau sesaji untuk arwah para leluhur yang diselenggarakan oleh raja-raja di Tanah Hindu. Namun dalam perkembangannya, upacara ini bergeser menjadi sarana untuk menyebarkan agama Islam melalui kegiatan kesenian gamelan.

Mengapa dengan gamelan, bukan rebana? Ya, alasannya karena masyarakat lokal cukup menggemari gamelan sebagai kesenian Jawa sehingga ini dijadikan sebagai salah satu sarana untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ombak Banyu Sekaten
Ombak Banyu Sekaten Yogyakarta (Dok. Pribadi)

Bagaimana Pelaksanaan Upacara Sekaten?

Nah, di kota Yogyakarta sendiri, upacara adat Sekaten ini biasanya diawali dengan tradisi Pasar Malam Perayaan Sekaten yang seringkali diadakan kira-kira tiga puluh hari. Pasar Malam ini cukup menarik minat orang untuk berkunjung karena menawarkan banyak hiburan dan produk jualan dengan harga murah meriah.

Puncak perayaan Sekaten biasanya diramaikan dengan prosesi Miyos Gangsa. Ini merupakan upacara keluarnya Gamelan Sekati, yakni Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga dari keraton. Lalu, gamelan ini dibawa kemana?

Nah, gamelan ini selanjutnya akan ditempatkan di Pagongan Masjid Gedhe dan ditabuh selama satu minggu. Puncak acara yang secara rutin diadakan setiap tahunnya ini diwarnai dengan upacara Grebeg Maulud Nabi.

Perbedaan Sekaten dengan Grebeg

Tradisi Grebeg Maulud merupakan rangkaian acara sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diadakan setiap tanggal 12 pada Bulan Maulud (Rabiulawal). Sedangkan Sekaten adalah salah satu rangkaian acara untuk meramaikan peringatan ini.

Upacara Gunungan Grebeg Maulud
Upacara Gunungan (doc. Riana Dewie)

Upacara Grebeg sendiri biasanya diramaikan dengan parade prajurit Keraton yang keluar lengkap ke jalanan dengan berhias senjata tradisional, panji serta alat musik. Nah, salah satu ciri khas upacara Grebeg ini adalah kirab gunungan aneka hasil bumi yang akan diperebutkan oleh masyarakat.

Gunungan ini maknanya apa sih? Ini adalah simbol kemakmuran Keraton Yogyakarta yang akan dibagikan kepada rakyatnya. Gunungan ini dibawa prajurit menuju Alun-alun utara untuk didoakan di masjid Gedhe Kauman. Setelahnya, masyarakat bisa berebut berkat Gunungan untuk dibawa pulang.

Peran Generasi Muda dalam Melestarikan Kearifan Lokal Sekatenan

Sekaten Yogyakarta, peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan seni gamelan. Saya adalah salah satu yang ketagihan untuk menyaksikan tradisi Sekaten hingga upacara Grebeg ini. Orang tua saya adalah sosok yang cukup menjunjung tinggi kearifan lokal yang berkembang secara turun-temurun. Otomatis, saya pun mengikutinya semenjak kecil.

Semakin bertumbuh dewasa, saya semakin menyadari bahwa ini tak sekadar perayaan tahunan untuk tujuan hiburan. Namun lebih dari itu, yaitu bersyukur atas anugerah Tuhan semenjak saya merasakan sendiri betapa sulit berebut makanan Gunungan di perayaan tradisional ini.

Saya pun merasa senang karena walaupun hidup di era modern seperti sekarang, saya masih dikelilingi oleh lingkungan yang menjunjung tinggi tradisi. Setidaknya saya merasakan sejarah, dimana hidup di area kerajaan ternyata seperti ini rasanya. Menyambut kedatangan raja, menikmati setiap prosesi adatnya, menunggu prajurit keluar dari keraton dsb. Jadi, banggalah jika kamu berasal dari Jogja atau saat ini berdomisili di Jogja.

Saking bangganya, saya suka share prosesi adat ini di media sosial. Terkadang berbentuk video, foto maupun tulisan. Ya, sebisa mungkin saya berbagi sukacita dengan teman-teman media sosial karena menurut saya, kearifan lokal Jogja yang satu ini sungguh mahal harganya dan wajib dilestarikan.

Prajurit Keraton Sekaten Yogyakarta
Prajurit Keraton (Doc. Riana Dewie)

Harus Didukung dengan Akses Internet Cepat

Nah, tentu saja teknologi digital sangat saya butuhkan untuk sharing beberapa pengalaman saya ini. Saya membutuhkan aplikasi untuk editing video atau foto dari smartphone, juga browsing sana-sini saat mencari referensi untuk menulis tentang tradisi Sekaten atau Grebeg Maulud ini.

Tentu saja, satu hal penting yang harus saya miliki adalah jaringan internet yang stabil. Saat stabil, kegiatan browsing internet akan lebih cepat, bahkan mengunduh file pun bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Untuk aktivitas menulis, saya lebih nyaman mengetik dengan menggunakan PC atau laptop sehingga mau tidak mau jaringan WiFi saya harus lancar agar optimal menghasilkan karya. Ya, walaupun banyak provider yang menawarkan jasanya, saya masih tetap cinta dengan IndiHome WiFi.

Mau tahu alasannya? Berikut saya kasih bocorannya, ya!

1. IndiHome Memiliki Track Record Bagus

Alasan utama saya masih setia dengan IndiHome adalah karena track record dari provider ini cukup bagus, bahkan terbukti IndiHome masuk dalam jajaran penyedia jaringan internet terbaik di Indonesia. Layanan telekomunikasi yang memanfaatkan teknologi kabel fiber optik ini juga minim gangguan dan dapat bekerja cukup optimal. Jagoan Internetnya Indonesia, nih!

2. Aman dari Serangan Virus Digital

Risiko saat mengakses telekomunikasi tentu ada, yaitu adanya serangan virus digital seperti malware, phising, spyware atau pun ancaman lain yang dapat merusak perangkat. Namun dengan setia menggunakan layanan dari Telkom Group ini, saya mendapat perlindungan ekstra anti virus sehingga aktivitas menulis jadi semakin nyaman.

3. Jaringan Cepat dan Stabil

Ini yang paling saya suka dari IndiHome WiFi, yaitu jaringan internet yang lancar dan stabil sehingga saya bisa menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat. Nah, se-asyik ini sih memakai jaringan WiFi dari IndiHome. Ada yang punya pengalaman sama?

Indihome Riana Dewie
Indihome (indihome.co.id)

So, aktivitas menulis saya sebagai blogger, terlebih untuk bercerita tentang pengalaman sehari-hari cukup dimudahkan jika menggunakan IndiHome WiFi. Selama 10 tahun terakhir, saya berlangganan provider ini dan tidak berniat ke lain hati.

Ya, jaringan internetnya cukup membuat saya betah karena saya bisa berselancar di jagat maya dengan cukup lancar. Tak heran, jika beberapa tulisan saya tentang Sekaten Yogyakarta, peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan seni gamelan ini juga memiliki viewer yang cukup lumayan karena menulisnya juga dengan hati gembira, terlebih jaringannya wus.. wus.. wus…!

Oh ya, beberapa tulisan saya tentang Sekaten dan Grebeg adalah “Kisah Satu Malam di Pasar Malam Sekaten 2016”, “Kemeriahan Pesta Rakyat Sekaten Yogya” juga “Megahnya Pameran Pusaka Keraton Yogya Usai Grebeg Maulud”.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya mau berterimakasih kepada IndiHome yang telah support hobi menulis saya ini sehingga saya merasa lebih produktif dan dapat memberikan kontribusi untuk melestarikan tradisi lokal, walau dengan cara sederhana.

Riana Dewie

 

 

Tinggalkan Balasan

Hi, terimakasih atas kunjungannya. Silakan bertanya atau berdiskusi dengan menulis di kolom komentar.