Miss Riana

Dear Mr. Rob, Aku Kangen

Dear Mr. Rob, Aku Kangen

Dear mr. rob,

Sudah berapa hari kamu bertemu Tuhan? Kangen gak sih sama kami? Kami yang suka jahilin kamu, kami yang tak berhenti cubit badanmu sana sini sampai bikin kamu sebel dan mengeluarkan wajah garang. Kalau sudah begitu, kami cekikikan gak berhenti karena merasa sukses membuat kamu marah 😀

Dear mr. rob, malam ke-4 setelah kami tak kunjung mendengar sapaanmu di depan rumah, ritme detak jantung ini semakin cepat.

Namun kami mencoba mengadilkan kondisi, mencuatkan pikiran baik, bahwa kamu sedang liburan dan lupa jalan pulang. Kami hanya berdoa, kamu baik-baik saja di sana. Kami hanya berdoa, kamu berlindung di rumah lain yang mungkin lebih membuatmu bahagia.

Dear mr. rob,

Tujuh tahun kami bersamamu. Tujuh tahun pula kami melewati banyak kisah bahagia yang tak terlupa. Setahun pertama aku takut padamu. Usai itu, aku mulai berani mengelus kepalamu dengan lembut. Selanjutnya, kami menyadari bahwa kamu itu lebih dari sekedar binatang peliharaan. Dan kami pun menyadari, kamu menganggap kami sebagai keluarga kesayanganmu.

Dear mr. rob,

Ingatkah kamu yang selalu siap siaga menjadi pengawal kemanapun kami pergi? Saat ibu mau arisan, kamu menemaninya hingga sampai di tujuan. Setiap mobil hendak melaju, kamu selalu berlari mengejar dan berteriak, dimana tujuanmu hanya ingin melindungi kami di sepanjang jalan. Dalam kondisi ini, Aku harus turun dari mobil, mengajak kamu bicara sejenak bahwa kami pasti akan pulang, hingga akhirnya rasa percayamu yang besar mampu membalikkan badanmu dengan tenang tanpa teriakan lagi. Kamu seperti bodyguard yang tak pernah mengharapkan balasan apapun dari kami.

Dear mr. rob,

Kamu adalah makhluk yang selalu membuat kami tertawa, dari tingkahmu, dari caramu menanggapi keusilan manusia. Mana ada kamu memilih makanan mahal? Apa yang kami makan, kamu pun menyantapnya. Tak melulu ikan, ayam atau daging yang lezat. Kami makan sambal terasi, kamu doyan. Kami makan oseng-oseng tempe bosok, kamu doyan. Kami makan tahu goreng, kamu doyan. Mungkin jika dibandingkan dengan teman-temanmu, kamu tak banyak minta ini itu. Cukup seulas senyum, kamupun bahagia.

Dear mr. rob,

Kamu pernah dihujat oleh mereka karena tuduhan yang sesungguhnya tak kamu lakukan. Seorang berteriak akan membunuhmu. Betapa hati ini teriris, tapi kamu tak tinggal diam. Kamu lari keliling kampung dan mencari persembunyian yang entah kami pun tak tahu keberadaanmu dimana saat itu. Malam hari, dingin dan kamu berjalan dalam kegelapan. Namun khawatir kami mendadak reda saat kamu berlari cepat dari arah rindangnya pohon bambu, mengarah ke rumah kami disaat kondisi sudah tenang, tengah malam.

Dear mr. Rob,

Maafkan kami yang tak bisa menjagamu. Kami yang salah, kami yang membiarkanmu berjalan-jalan sendirian keluar. Tak memiliki cukup tanah lapang membuatmu harus mencari tempat lain untuk bermain. Andai kami punya tempat layak buat kamu, saat ini mungkin kami masih bisa melihat ceriamu. Dan kamupun tak perlu membagi waktu untuk jalan kesana kesini, berbagi kasih untuk dua keluarga, rumah kami dan rumah ibu yang berjarak hampir 1 km.

Ya, setiap malam kamu selalu datang, dan pulang kembali jam 4 pagi ke rumah ibu. Dan ini kamu lakukan setiap hari, hanya untuk memastikan bahwa kami baik-baik saja.

Dear mr. Rob,

Terimakasih. Kamu selalu duduk di samping spring bed atau di depan pintu kamar jika ada anggota keluarga yang sakit, sedih ataupun menangis. Kamu menemani, seakan berbisik, “jangan sedih, ada aku disini…..” Air matamu kadang tampak meleleh di pelupuk matamu, saat kami benar-benar kesusahan. Biar kata orang kamu hanya binatang yang buruk rupa, tapi kami menyadari bahwa hatimu tidak.

Dear mr. rob,

Andai kami tahu bahwa umurmu tak panjang, kami pasti berusaha membuatmu hepi di detik-detik terakhirmu. Tapi maaf ya rob, kami hanyalah manusia biasa yang kadang tak bisa merasakan ketulusanmu sebagai pejuang. Yang kami tahu, kamu adalah makhluk kecil berbulu yang selalu nyungsep duduk diantara kami yang sedang asyik ngobrol, yang selalu ingin diperhatikan, yang takut dengan suara petasan saat malam takbiran dan sangat suka difoto di sebelah pohon Natal, jelang akhir tahun.

Dear mr. rob,

Setiap mengingat kebersamaan denganmu, kami pun tak bisa menahan tangis sedih yang begitu dalam. Bapak, Ibu, Adek dan semuanya, benar-benar kehilangan kamu. Nyesek rasanya, bahkan sampai hari ini kami masih belum percaya telah kehilanganmu, rindu kami tak habis-habis.

Ada luka kecil di kakimu saja kami berusaha mengobatinya agar kamu ceria lagi. Tapi jika orang jahat itu memusnahkanmu dan menyantapmu dengan sangat tak manusiawi, kami serahkan kepada-Nya. Karena Dialah yang akan mengadili segala hal yang tak baik.

Dear mr. rob,

Namamu takkan terhapus dari hati kami. Ya, kamu adalah satu makhluk Tuhan yang memang tak sesempurna kami, manusia. Namun kehadiranmu sungguh menyempurnakan kebahagiaan keluarga kami.

Sungguh, untuk menulis kisah inipun butuh keberanian, karena aku takut tak mampu menahan air mata kesedihan. Dan benar, sekarang terulang lagi.

Dear mr. rob, salam buat Tuhan di surga ya. Tenanglah, kami baik-baik saja disini. Kamu pun pasti sama, bahagia bersama malaikat yang selalu menjagamu, dan kamipun lega, takkan ada lagi yang menyakitimu.

Tentang Diri Saya, Inilah 5 Fakta yang Terpendam

Dia adalah kesayangan keluarga yang menemani kami mulai umur 20 hari hingga 7 tahun. Ingat betul malam itu, saat Niken, si pecinta segala makhluk Tuhan, datang ke rumah dan mencoba menyapanya dengan senyum tulus. Thank ya nik, sudah sempat membuatnya bahagia 🙁

12 thoughts on “Dear Mr. Rob, Aku Kangen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *